Berita

Demokrasi Telah Jauh Menyimpang

Kamis Pahing, 28 Mei 2015 09:27 WIB 481

Kontestasi yang kuat ketika Pemilihan Presiden (Pilpres) 2014 terus berdampak pada hubungan antara pemerintah dan parlemen saat ini. Kondisi itu diperparah dengan parlemen yang terbelah menjadi dua kubu, Koalisi Indonesia Hebar (KIH) dan Koalisi Merah Putih (KMP).

Akibatnya, kritikan yang disampaikan parlemen selalu dianggap sebagai “rasa tidak suka” kepada pemerintah. Sebaliknya, apapun kebijakan pemerintah selalu dianggap tidak tepat dan harus dikritik.

Politisi senior PDIP Maruarar Siahaan menilai, demokrasi saat ini telah jauh menyimpang karena masing-masing partai politik selalu mementingkan diri sendiri. "Saya melihat tidak ada lagi demokrasi saat ini. Demokrasi yang ada hanya untuk kepentingan partai dan kelompok tertentu," ujar Maruarar di Jakarta.

Menurutnya, parpol dan DPR kini banyak bicara demokrasi Pancasila tapi tidak ada yang mau mengalah. Dia mencontohkan, kisruh Golkar dan PPP. "Buat pemerintah apa yang dialami Golkar dan PPP saat ini bisa saja bagus. KIH dan KMP saling memasang kuda-kuda untuk terus berantam," ucapnya.

Terkait silaturahmi pimpinan DPR dengan presiden belakangan ini, Maruarar melihat hal itu dilakukan hanya untuk tujuan tertentu. Anggaran pemerintah di kementerian bisa diketok jika ada persetujan DPR.

"Pemerintah dan DPR supaya seolah-olah terlihat akur. Padahal sebenarnya untuk bagi-bagi kue. Bagian kami apa bagian parpol apa. Maka DPR selalu buat anggaran gelondongan. Pimpinan dan anggota DPR semua dapat. Jadi rapat konsultasi hanya deal-deal politik," ucapnya. (Berita Kesbangpol/beritasatu.com)