Berita

Koordinasi Elite Parpol Cegah Aksi Kekerasan

Selasa Wage, 1 Desember 2015 15:04 WIB 640

Pakar psikologi sosial Universitas Gadjah Mada Yogyakarta Fauzan Heru Santoso menyatakan aksi kekerasan simpatisan partai politik saat kampanye terbuka bisa dihindari jika koordinasi para pemimpin partai politik berjalan.

”Sebetulnya peran pimpinan kelompok sangat besar, meskipun sebenarnya sering kecolongan. Peran para pemimpin kelompok, laskar parpol maupun elite di lingkup parpol harus mampu mengendalikan pendukungnya agar tidak ada lagi aksi kekerasan,” kata Fauzan Heru Santoso di Yogyakarta, Sabtu.

Menurut dia, untuk menghindari konflik dan meredakan konflik antarmassa pendukung harus ada komitmen bersama untuk berdamai dan tidak memperpanjang konflik.

”Jika ingin konflik yang berujung pada aksi kekerasan tidak terulang, maka pimpinan kelompok harus mau bertemu untuk kurangi konflik. Kalau ada kesepakatan sampaikan ke bawah, “ katanya.

Ia mengatakan, peristiwa kekerasan dalam kampanye terbuka, yang melibatkan kaum muda sebenarnya sangat disayangkan. Bisa dipahami jika kaum muda punya energi besar, yang kalau tidak tersalur energinya bisa meledak dalam bentuk sikap agresif.

”Kalau dalam politik, sudah waktunya elite parpol pastikan energi kaum muda dengan diisi edukasi moral politik yang baik. Tapi inilah fenomena politik hari ini. Coba mana parpol yang mampu memberikan pendidikan politik dengan baik. Ada krisis kepercayaan pada parpol yang lebih berorientasi kekuasaan, kejar kemenangan semata dengan halal kan segala cara,” katanya.

Fauzan menambahkan, politik itu penting dalam pengertian sebagai jalan negosiasi kepentingan dan kesepakatan. Saat ini, pendidikan kepada semua simpatisan parpol penting agar sesuai konstitusi negara.

”Saya kira, ini pekerjaan rumah bersama bagaimana moral politik di ajarkan, diwujudkan dalam tindakan politik baik,” katanya, seperti ditulis Antara.

Ia mengatakan, terkait aksi kekerasan yang terjadi intinya massa itu bukan jiwa individu, saat kehilangan identitas diri, tersulut oleh hal-hal kecil saja, ekspresinya jadinya mengamuk.

”Jika sudah begitu, seperti aksi kekerasan yang terjadi di Jalan Damai di Sleman, Bantul dan Kota Yogyakarta, polisi sebagai penegak hukum juga tidak bisa berbuat banyak, tidak bekerja cepat saat terjadi aksi kekerasan yang spontan. Inilah sifat massa yang bergerombol susah ditebak. Ekspresinya sulit diperkirakan. yang namanya massa itu jiwanya tidak individu, kalau sudah berkumpul mudah tersulut,” katanya. (Berita Kesbangpol/suarakarya.id)